Selasa, 01 November 2016

Resum pertemuan ke 4




MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK IBADAT

            Manusia di ciptakan sebagai makhluk ibadat. Tugas manusia di dunia adalah beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun[i]” - Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [QS 51 : 56]. Meskipun merupakan tugas, akan tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah: “Maa ‘uriydu minhum mir-rizkin wa maa uriydu an yuth’imuun[i]” - Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. [QS 51 : 57], karena Allah tidak memerlukan apa-apa. Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri.
            Ibadah dalam konsep islam yakni segala perilaku manusia yang dengan konteks kebaikan yang dimulai dari membaca Basmallah. segala perbuatan baik yang di awali dengan Basmallah maka akan di anggap ibadah oleh Allah SWT.
Ibadah berasal dari kata 'abada yang arti bebasnya menyembah atau mengabdi merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Kholiq [Pencipta]. Karena penyembahan atau pemujaan merupakan fitrah [naluri] manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan yang salah dan tidak dikehendaki oleh Allah. Sehingga yang mengabdi [manusia] disebut Abid, sedangkan yang disembah disebut Ma’bud.
Ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Sehingga segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir maupun batin, semuanya merupakan (dan dapat disebut dengan) ibadah. Sedangkan lawan dari ibadah adalah ma'syiat.
Sehingga bentuk "Ibadah" ada dua :

1.  Ibadah Maghdhah [khusus]; Yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan      biasanya lebih bersifat RITUAL [misalnya : shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah, dll].

2. Ibadah 'Amah [Muamalah]; Yaitu ibadah dalam arti umum, sehingga segala bentuk perbuatan maupun setiap aktifitas kebaikan manusia yang dilandasi oleh niatan Akhlaso [kemurnian] semata-mata untuk mendapatkan ridho [restu] dari Allah merupakan perwujudan dari penghambaan dan pengabdian ataupun penyembahan kepada Allah. Misalnya : Mencari nafkah dalam bentuk aktifitas BISNIS, Hidup bermasyarakat [bertetangga], Pergaulan dengan Kerabat, Hidup bernegara, tolong-menolong, dll.
Manusia harus memiliki 3 hal yang tidak boleh di pisahkan, yakni iman,ilmu dan amal, karena seseorang harus memiliki amal untuk membuat ilmunya bermanfaat dan memiliki iman agar apa yang ia amalkan mmenjadi nilai ibadah.

Resum pertemuan ke 3




SUNNATULLAH


Di dunia ini kita mengetahui yang namanya hukum alam. Namun sebenarnya itu adalah ketetapan Allah SWT atau yang di sebut Sunnatullah. Ia adalah peraturan, sistem dan ketentuan Allah untuk hamba-hamba-Nya di dunia ini yang bernyawa atau yang tidak bernyawa, adanya sistem dan peraturan atau sunnatullah ini untuk dipatuhi oleh sesama makhluk.
Sunnatullah itu sifatnya ia tidak berubah-ubah, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Dan sekali-kali engkau tidak akan dapat sunnah Tuhan itu berubah-ubah." (Ahzab: 62/Al Fath: 23) dan ayat ayat yang lain.
Setelah ditetapkan sunnah-Nya , Dia tidak mengubahnya walau dalam keadaan apa sekalipun. Ada banyak hikmah kenapa Tuhan berbuat begitu. Semuanya merupakan rahmat untuk hamba-hambaNya. Bila sunnatullah tidak berubah-ubah, kita mudah belajar dan mudah tahu karena ia perkara yang tetap yang berlaku setiap masa.

Disebabkan sunnatullah tidak berubah-ubah, maka hidup kita menjadi teratur. Setelah siang, kita tahu ada malam. Ia silih berganti secara tetap. Kalau malam dan siang tidak tetap dan berubah-ubah, hidup kita akan menjadi kucar-kacir atau tidak teratur, maka sulit  bagi kita untuk menjalani hidup. dan kita akan dapat rasakan bahawa dunia ini ada yang menyusun, ada yang mengaturnya. Dunia tidak dibiarkan berfungsi dengan sendiri ikut sesuka hati tanpa sebarang sistem. Justru kita akan dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam dunia dan alam ini dan satu dari tanda-tanda kebesaran Tuhan kalau kita mahu mengambil iktibar.
(Al Jaatsiyah , Ali 'Imran , al baqarah dan ayat yang lain)

            Maka dari itu Manusia (Nabi Adam) di ciptakan untuk menjadi khalifah di bumi ini seperti yang ter cantum pada surah A Naml ayat 62 :

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”
           



 Manusia di ciptakan Allah SWT dengan sebaik-baiknya sebagaimana dalam surat At-Tin ayat 4 dan juga memiliki kelebihan di banding makhluk ciptaan lainnya. Allah memberikan kelebihan berupa akal atau pikiran, nafsu dll. Berbeda dengan hewan yang hanya memiliki insting. Semua itu di berikan kepada manusia karena manusialah yang di utus menjadi khalifah di muka bumi ini dan mengolah beserta isinya.
           
            Semua yang ada di muka bumi maupun alam semesta ini sudah memiliki ketetapan yang sudah di tetapkan oleh Allah SWT yaitu Sunnatullah itu sendiri. Kita harus percaya dan selalu menurutinya.



Resum pertemuan kedua



KEBENARAN ILMIAH


Membicarakan tentang Kebenaran Ilmiah, di sini ilmiah memiliki arti sesuatu yang bersifat keilmuan. Jadi Kebenaran Ilmiah bisa di artikan sesuatu hal yang berisi kebenaran di karenakan data – data yang melengkapinya atau melalui sebuah pembuktian. Menurut bahasa, kebenaran adalah kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada.  Menurut istilah, semua perkataan yang besifat semantik, menunjukkan sebuah pernyataan artinya proposisinya sungguh-sungguh merupakan halnya.
              Jadi, kebenaran ilmiah ialah suatu pengetahuan yang diperoleh  dengan penelitian dan penyelidikan yang kritis serta diadakan argumentasi, perbandingan, klasifikasi, analisa  sehingga ditemukan jawaban atau hasil yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini akan mendukung kuat atau tidaknya sebuah riset ilmiah. Semakin banyak memiliki bukti semakin kuat sebuah kebenaran tersebut. Begitu pun sebaliknya semakin sedikit bukti yang di dapat semakin lemah juga suatu kebenaran tersebut. Pembuktian juga di butuhkan dalam kebenaran ilmiah seperti pembuktian secara kasat mata atau terindra. 
            Kebenaran ilmiah ini tidaklah mutlak , karena seiring dengan perubahan  dan perkembangan zaman. Perubahan dan perkembangan ini akan membuat atau menimbulkan pemikiran – pemikiran yang berbeda lagi, dan akan membuat peniliti akan menguji kebenarannya lagi dengan melakukan beberapa penilitian.
            Namun kami sebagai muslim tentu memiliki sebuah pedoman untuk menyikapi semua yang terjadi di muka bumi ini, termasuk kebenaran ilmiah. yakni Al-Qur`an. Semua yang terjadi di muka bumi ini sudah tertulis lengkap di dalam Al-Qur`an, banyak pula yang sudah membuktikan kebenaran isi Al-Qur`an  dan kami sebagai umat islam meyakininya karena selain mengandung kebenaran, meyakini Al-Qu`an adalah suatu rukun iman dalam islam. Jadi kebenaran yang bersifat mutlak hanya dimiliki oleh Kitab Al-Qur`an.Kemurnian Al-Qur`an ini tidak boleh di rubah dan memang tidak ada yang akan  bisa merubahnya. Dan Allah SWT telah berfirman akan selalu menjaga kemurniannya hingga akhir zaman.