Kita adalah manusia, tentunya semua bisa mengartikan
sendiri sebenarnya apa hakekat manusia yang sebenarnya, dan sebenarnya asal
manusia itu berasal dari apa. Berbicara masalah asal manusia dalam buku On
The Origin Of Spesies karya Charles Darwin (Pencetus teori evolusi
kejadian manusia) Disebutkan manusia berasal dari kera hasil
perkembangan evolusioner selama jutaan tahun. Namun setelah diuji secara ilmu
pengetahuan dan teknologi, manusia sangat berbeda dengan kera. Baik dari segi filosofis,
anatomis, maupun biologis. Dengan kata lain manusia adalah manusia, dan monyet
adalah monyet, manusia lain sama sekali dengan monyet. Dan dengan demikian
teori Charles Darwin tidak dapat diterima.
Pandangan
ilmuan mengenai hakekat (devinisi) manusia.
Untuk menjawab
itu semua penulis sampaikan pengertian dan asal manusia ditinjau dari Al-Qur’an
yang insyaAllah dapat kita terima
kebenarannya. Dalam alqu’an banyak sekali ayat yang menunjukan proses
penciptaan manusia dan hakekat manusia itu sendiri, diantaranya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila
Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr
[15]: 28-29)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang
berkembang biak”. (Q.S. ar-Rum [30]: 20)
“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka, apabila
telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka
hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Shaad [38]: 71-72.)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka,
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya
ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr
[15]: 28-29)
“Kemudian kami jadikan saripati itu air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu
kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka, Mahasuci-lah Allah, Pencipta yang paling baik”. (Q.S. al-Mu’minuun
[23]: 13-14)
Dari ayat-ayat diatas sudah jelas rasanya
hakekat manusia itu sendiri dan asal manusia. Dari ayat di atas pula Menurut M.
Quraish Shihab di dalam Al-Qur’an terdapat 2 kata yang menjelaskan hakekat
manusia, yaitu Basyar dan Insan. Kata basyar terambil dari akar kata yang
bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama
lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar
sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk
menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia
seluruhnya. Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi
material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan. Dari makna ini
lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar
kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap
sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Kemudian Insan, terambil dari kata ins yang
berarti jinak, harmonis, dan tampak. Musa Asy’arie menambahkan bahwa kata insan
berasal dari tiga kata: anasa yang berarti melihat, meminta izin, dan
mengetahui; nasiya yang berarti lupa; dan al-uns yang berarti jinak. Menurut M.
Quraish Shihab, makna jinak, harmonis, dan tampak lebih tepat daripada pendapat
yang mengatakan bahwa kata insan terambil dari kata nasiya (lupa) dan kata
naasa-yanuusu (berguncang). Dalam Al-Qur’an, kata insaan disebut sebanyak 65
kali. Kata insaan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan
seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Bahkan, lebih jauh Bintusy Syathi’
menegaskan bahwa makna kata insaan inilah yang membawa manusia sampai pada
derajat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumi, menerima beban
takliif dan amanat kekuasaan.
Dua kata ini, yakni basyar dan insaan, sudah
cukup menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami
menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna,
yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga,
jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka
bumi (khaliifah Allah fii al-ardl).